Hai balik lagi dengan blog #perjalanansikampret postingnan kali ini menghadirkan beberapa artikel tentang fans fanatic garis keras di ajang pencinta sepak bola , begitu banyak club – club yang tampil di berbagai ajangan liga internasional maupun local , banyak club yang sedang berlomba – lomba memperkuat tim nya menjadi sangat kuat ,dengan mendatangkan pemain bintang , ada pula yang mendantangkan pelatih yang bersetifikat dan sudah teruji kemampuan nya dengan berbagai prestasi yang di peroleh di masa kejayaan nya di club lama nya dan banyak juga investor para wirausaha yang berlomba – lomba menanamkan modal nya di banyak club.
![]() |
| Pendukung Sepak Bola |
Nah gak luput juga dengan fans yang
setia mendukung tim kesayang nya untuk berlaga di ajang liga bergengsi skala internasional maupun lokal , ada beberapa kriteria
fans di antara
1.
Hooligan.
Hooligan adalah sebutan untuk fans sepak
bola di Inggris yang mulai sering terdengar antara tahun 1960an. Dilansir dari
thefirms.co.uk, sebutan ini merujuk pada sekelompok pendukung klub sepak bola
Inggris yang gemar melakukan tur untuk mengikuti tim pujaan bermain di luar
kota. Beberapa nama kelompok Hooligan yang terkenal antara lain adalah,
Gooners, The Herd, Villa Hardcore, Zulu's Army, Headhunters, The Army, dan The
Urchins.Mereka memiliki tradisi "away day" alias mengawal tim
kesayangan ke luar kota. Bagi sebagian orang, perilaku mereka terkesan urakan.
Mulai dari minum-minum, bernyanyi, hingga melakukan kerusuhan telah lekat dalam
imej mereka. Tak jarang, aksi fanatisme mereka kemudian memakan korban.
Beberapa kali insiden penusukan antar kelompok Hooligan mewarnai sepakbola
Inggris. Termasuk di antaranya tragedi Heysel dan Hillsborough.
2.Casuals
Antara tahun 1985-1990, pemerintah
Inggris secara resmi melarang kegiatan Hooliganisme dalam bentuk apapun.
Kebijakan ini dikeluarkan sebagai respons atas tragedi Hillsborough yang
menewaskan 96 orang pada tahun 1985. Hal itu membuat para Hooligan tak bisa
mengenakan kostum tim kesayangan saat menonton sepak bola. Untuk mengatasi hal
itu, Hooligan memilih untuk tetap datang ke stadion dengan mengenakan pakaian
kasual yang kemudian melahirkan kelompok pendukung Casuals.
Tifosi sendiri pada dasarnya adalah
bahasa Italia untuk kata "penggemar" atau fans. Sama seperti di
Inggris, sepak bola juga telah menjadi bagian dalam budaya masyarakat Italia.
Di Italia, penggemar sepak bola sangat terikat dengan stereotipe kedaerahan dan
sikap politik. Supporter yang awalnya bertujuan mendukung tim kesayangan, malah
terjebak pada saling ejek kota asal dan pilihan politik.
Kelompok
tifosi adalah kelompok yang didominasi oleh keluarga kecil bersama anak mereka
atau kadang juga sekelompok wanita. Mereka datang ke stadion dengan segala
pernak-pernik klub, termasuk jersey, syal, dan topi.
4.Ultras
Berbeda dengan Tifosi, kelompok Ultras
diklaim sebagai kelompok supporter yang lebih ekstrem. Pada awalnya mereka
muncul pada akhir 1960an. Kala itu, pendukung dari klub-klub Italia membentuk
semacam geng yang menempati tribun berdiri di belakang gawang dengan nama
"Brigade", "Fedayeen", atau "Commando". Kelompok
Ultras identik dengan gaya penampilan serba hitam, menggunakan scarf dan jaket
hoodie. Mereka menonton pertandingan sambil berdiri dan terus menyanyi sambil
kadang mengibarkan bendera atau membakar petasan.
5.Mania
Kata "mania" seringkali
digunakan oleh kelompok suppporter di Indonesia. Misalnya, Jakmania,
Bonekmania, atau Aremania. Menurut KBBI, kata "mania" adalah gangguan
jiwa dengan ciri gejala kemarahan, kegelisahan, kekalutan, atau kebingungan yg
berlebih-lebihan. Namun secara terminologi "mania" juga dapat
diartikan sebagai kegembiraan yang dimanifestasikan oleh hiperaktivitas mental
dan fisik. Atau juga dapat berarti antusiasme yang berlebihan dan kadang tidak
beralasan.

